Permata Bank Tumbuhkan Laba dan Likuiditas Positif Sepanjang 2025

Kamis, 12 Februari 2026 | 14:08:02 WIB
Permata Bank Tumbuhkan Laba dan Likuiditas Positif Sepanjang 2025

JAKARTA - Di tengah tekanan geopolitik global dan dinamika industri perbankan nasional sepanjang 2025, PT Bank Permata Tbk mampu menjaga stabilitas sekaligus mencatatkan pertumbuhan kinerja yang solid. 

Strategi disiplin, pendekatan prudent, serta konsistensi menempatkan nasabah sebagai pusat keputusan bisnis menjadi fondasi utama dalam membukukan laba setelah pajak sebesar Rp 3,6 triliun hingga akhir tahun.

Capaian tersebut ditopang pertumbuhan kredit yang tetap terkendali serta lonjakan signifikan pada pendapatan nonbunga. Manajemen menilai hasil ini mencerminkan ketahanan fundamental perusahaan dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi sepanjang tahun lalu.

"Kinerja kami mencerminkan fundamental yang resilien, terlihat dari pertumbuhan pendapatan, kualitas aset yang terjaga, serta komitmen untuk terus memperkuat kepercayaan nasabah,” ujar Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli.

Sepanjang 2025, total pendapatan bank tumbuh 3,8 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 12,6 triliun. 

Peningkatan ini terutama disokong oleh pendapatan nonbunga yang melonjak 34,1 persen YoY menjadi Rp 2,6 triliun. Sementara itu, laba bersih sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) tercatat tumbuh 4,7 persen.

Likuiditas dan Struktur Neraca Tetap Solid

Dalam menghadapi ketidakpastian global, Permata Bank tetap menjaga struktur neraca dan likuiditas pada level sehat. Rasio loan to deposit (LDR) tercatat 84,5 persen pada akhir 2025, mencerminkan penyaluran kredit yang seimbang dengan penghimpunan dana.

Dari sisi likuiditas berbasis standar Basel III, rasio bank berada jauh di atas ambang minimum 100 persen. Hingga kuartal IV 2025, liquidity coverage ratio (LCR) rata-rata mencapai 296,5 persen, sementara net stable funding ratio (NSFR) tercatat 126,8 persen pada akhir Desember 2025. 

Angka-angka ini menunjukkan kesiapan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendek maupun menjaga stabilitas pendanaan jangka panjang.

Total aset bank meningkat 3,6 persen YoY menjadi Rp 268,3 triliun. Sementara itu, simpanan nasabah tumbuh 3,9 persen YoY menjadi Rp 192,8 triliun. 

Pertumbuhan dana murah atau current account saving account (CASA) bahkan melonjak 20,1 persen, mendorong rasio CASA naik menjadi 63,9 persen dari sebelumnya 55,3 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan rasio CASA ini memperkuat struktur pendanaan bank karena dana murah memberikan fleksibilitas lebih besar dalam menjaga margin serta mendukung ekspansi kredit secara berkelanjutan.

Kredit Tumbuh dengan Risiko Terkendali

Dari sisi intermediasi, Permata Bank mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 5,5 persen YoY menjadi Rp 163,3 triliun per Desember 2025. Segmen korporasi menjadi kontributor utama dengan kenaikan 11,2 persen YoY menjadi Rp 99,6 triliun.

Meski kredit tumbuh, kualitas aset tetap terjaga. Rasio non-performing loan (NPL) gross berada di level 2,1 persen. Sementara itu, loan at risk (LAR) tercatat 4,3 persen, membaik dibandingkan 5,5 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Bank juga menerapkan pencadangan secara konservatif sebagai bagian dari strategi manajemen risiko. Rasio NPL coverage tercatat 356 persen dan LAR coverage 171 persen. Upaya restrukturisasi, litigasi, serta penjualan aset terus dilakukan untuk menyelesaikan kredit bermasalah dan memperkuat kualitas portofolio pembiayaan.

Pendekatan hati-hati ini menjadi kunci dalam menjaga stabilitas kinerja, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih dibayangi ketidakpastian global dan fluktuasi pasar.

Permodalan Kuat dan Kinerja Syariah Menguat

Dari sisi permodalan, Permata Bank menunjukkan posisi yang sangat solid. Rasio capital adequacy ratio (CAR) tercatat 34,6 persen dan common equity tier 1 (CET-1) sebesar 26,6 persen pada akhir 2025. 

Struktur modal yang kuat ini menjadi fondasi penting bagi ekspansi bisnis ke depan, baik melalui pertumbuhan organik maupun peluang anorganik.

Kontribusi Unit Usaha Syariah (UUS) juga menunjukkan perkembangan positif. Laba operasional sebelum provisi mencapai Rp 785,3 miliar, tumbuh 8,1 persen YoY. Simpanan nasabah UUS tercatat Rp 27,0 triliun dengan rasio CASA mencapai 73,6 persen.

Kinerja ini menandakan bahwa lini syariah menjadi salah satu pilar pertumbuhan yang semakin signifikan dalam struktur bisnis Permata Bank. Tingginya rasio CASA di UUS turut memperkuat efisiensi pendanaan serta mendukung ekspansi pembiayaan syariah yang berkelanjutan.

Pembiayaan Berkelanjutan dan Pengakuan Industri

Permata Bank juga mencatat pertumbuhan signifikan dalam portofolio pembiayaan berkelanjutan. Sepanjang 2025, portofolio ini tumbuh 33,3 persen menjadi Rp 30,1 triliun atau setara 18,4 persen dari total pembiayaan. Dana tersebut mencakup dukungan terhadap proyek energi terbarukan dan properti bersertifikat hijau.

Langkah ini menunjukkan komitmen bank dalam mendukung agenda keberlanjutan sekaligus memperluas basis pembiayaan pada sektor-sektor yang memiliki dampak positif terhadap lingkungan dan ekonomi jangka panjang.

Selain mencatatkan kinerja keuangan yang solid, Permata Bank juga meraih berbagai pengakuan sepanjang 2025. Bank memperoleh sertifikasi Great Place To Work® serta penghargaan seperti The Excellent Performance Bank 2025 dan Fortune Indonesia 100. 

Penghargaan ini mencerminkan pengakuan terhadap kinerja bisnis sekaligus budaya kerja yang kuat di dalam organisasi.

Dengan fundamental yang resilien, struktur likuiditas dan permodalan yang kuat, serta kualitas aset yang terjaga, Permata Bank menutup 2025 dengan posisi yang solid.

Capaian laba Rp 3,6 triliun menjadi bukti bahwa strategi disiplin dan fokus pada nasabah mampu menghasilkan kinerja berkelanjutan di tengah dinamika industri.

Terkini